Our Feeds

Flickr

Blogger news

Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Mei 2018

Tofik Nurochman

Membangun Peradaban Kutim Melalui Madrasah Diniyah


Oleh: Mukhtar (Ketua Garda Bangsa Kutim)
Pada era globalisasi dan desentralisasi sekarang ini pertumbuhan serta perkembangan sebuah daerah di semua sektor semakin pesat, tiap-tiap daerah mau-tidak mau dituntut untuk bersaing dengan daerah-daerah lain agar tidak menjadi daerah yang tertinggal. Dalam konteks pembangunan, pendidikan menjadi salah satu faktor penting dalam penentu kemajuan sebuah bangsa, karena

Senin, 17 Agustus 2015

Tofik Nurochman

Oleh Oleh Dari Kampung

Senja itu ribuan umat islam menunggu penantian yang sempurna untuk merayakan hari kemenangan, tidak berbeda halnya seperti yang rasakan. Gelombang asa menyelimuti hati seiring detak jantung yang menjadi tonggak kehidupan. Dooaar itulah suara yang terdengar sebagai tanda munculnya titik kesempurnaan penantian umat islam, suara petasan susul - menyusul menggema dimana mana.

suara petasan terus menggelegar sahut menyahut menambah nuansa indah di senja itu, nuansa yang penuh kebahagian setelah penantian dengan perjuangan yang begitu berat, perjuangan menahan lapar dalam puasa serta meningkatkan iman dan takwa kepada yang maha kuasa.

Hingar bingar penuh keceriaan menyelimuti wajah ribuan umat islam yang menyambut hari kemenangan itu, dari yang tua, muda, sampai anak-anak turut menyambut hari kemenangan dengan penuh kegembiraan, “mann sholat maghrib dulu jangan duduk terus” teriakan wanita paruh baya membangunkanku dalam lamunan menikmati nuansa hari kemenangan,

‘Inggih buu” sahut ku sembari bangkit berjalan menuju mushola dekat rumah ku.

“Allohhu akbarr” berkali-kali takbir itu terdengar dari toa mushola kecil dekat rumahku, ustad kecil berbadan kurus dengan suara indahnya terus melantunkan takbir itu di balik keramaian umat islam menantikan tiba waktunya sholat maghrib, orang tua, muda-mudi mulai berdatangan dengan wajah penuh semangat tuk meramaikan sholat jama’ah di mushola anak kecil pun turut ngga ketinggalan datang dengan berbagai cerita penuh tawa yang mereka ceritakan bersama teman sebayanya sambil memainkan bermacam petasan.

Sungguh indah nuansa senja itu, takbir terkumandang dimana-mana saling sahut-menyahut, suara bedug yang di tabuh dengan berbagai lantunan nada riuh menggema memecahkan asa, di tambah bunyi petasan yang terus menggelagar bak nyanyian petir dalam kegembiraan.

kala itu aku duduk termangu di teras mushola menyaksikan asiknya anak kecil bermain petasan, nampak dari kejauahan di bawah remang-remang lampu jalanan rombongan muda-mudi datang dengan membawa berbagai macam alat musik tradisional, ada yang membawa kentongan, bedug kecil dari kulit sapi yang sudah mulai usang, ada juga yang membawa galon maupun botol bekas, mereka berjalan beriringan sambil bernyanyi menyerukan takbir sembari terus memainkan alat musik yang mereka bawa. “ayuk mann ikut takbir kliling ?” panggil salah satu pemuda dari rombongan itu ketika mereka sampai di depan mushola tempat aku duduk termangu. Tanpa aku sadari pemuda yang memanggil ku adalah sagon, dia adalah temen akrab ku sejak kecil, namun setelah lulus SD kami berpisah karena keluarga sagon pergi ke sumtra untuk merantau dan aku pergi untuk melanjutkan sekolah ku di kota pelajar Jogjakarta, aku dan sagon dulu berteman sangat akrab layaknya seorang dalam keluarga, hampir tiap hari pergi main bersama dari berangkat sekolah selalu bareng, nyuri jambu tetangga sampai mandi di kali pun selalu bersama. Dan kini pertemuan pertama ku dengan dia setelah berpisah 6 tahun yang lalu, kami duduk-duduk di teras mushola bersama rombongan saling bertanya kabar dan bertukar pengalaman, kian lama kami duduk-duduk saling bercerita bersenda tawa mengingat kejadian masa lalu yang bernah kami alami bersama sambil menikmati buah jambu yang di bawah oleh salah seorang dari rombongan itu, aku pun tertarik ajakan mereka untuk ikut takbir keliling bersama dan kami pun turut mendiskusikan rute yang akan kami lewati untuk takbir keliling, ketika sudah mencapai kesepakatan dan mau berangkat aku malah kebingungan karena tidak mempunyai alat musik seperti yang teman-teman bawa, tapi itu tak mengurungkan niat ku untuk ikut takbir kliling bersama yang tak pernah aku rasakan sebelumya, hanya tepuk tangan yang bisa aku lakukan berpadu dengan gemuruh suara alat musik yang teman-temanku mainkan untuk mengiringi takbir yang kami teriakan.
Baca Juga: Membangun Peradaban Kutim Melalui Madrasah Diniyah
“Allohu akbar, Allohhu akbar, Allohu akbar walilla hilhamdu” itulah takbir yang kami teriakan dengan di iringi lantunan alat musik seadanya sembari terus menyusuri jalan setapak yang sedikit gelap karena tidak ada lampu penerangan jalan, walaupun gelap dan licin tapi itu tidak menyurutkan semangat kami untuk terus meneriakan takbir dan memainkan alat musik yang kami bawa. Terkadang kami juga bertemu dengan rombongan lain yang turut meramaikan malam kemenangan itu, senang bertabur dalam suka cita nampak dari wajah semua orang dalam rombongan menghapus semua lelah, haus, lapar yang seolah tak kami rasakan meski kami sudah lama berjalan menyusuri jalan-jalan kampung, tepat jam 9 malam kami sampai di mushola tempat kami berdiskusi tadi, rasa lelah, letih, dan haus memaksa kami untuk menyudahi takbir kliling itu, ku rebahkan tubuh ini atas teras mushola dengan terangan lentera yang begitu remang sembari menikmati minuman es. Senda gurau, canda tawa tak ada habisnya terus bergerumung mengikuti gerombolan ini, BERSAMBUNG...

Kamis, 20 November 2014

Tofik Nurochman

Noda Hitam Lembar Sejarah


Jam alarm terus berdentang mengusik kesunyian pagi di selah-selah tidurku, betley dubs nada alarm yang terpasang pada handphone ku terus berdering nyaring seprti layaknya memberitahu bahwa peradaban dunia malam telah berakhir. Sekitar setengah jam berlalu alarm pada handphone terus berbunyi berharap ada yang mematikanya, ku terbangun merasa seperti ada yang mengusik tidur indah ku, terdengar bising-bising samar

yang begitu nyaring yang membuat ku merasa jengkel selepas bangun tidur, terlihat jam di handphone masih menunjukan jam 5 pagi ku matikan alarm dan mencoba untuk tidur lagi, tak lama kemudian terdengar teriakan dari luar kamar “ bangun man udah siang, sholat shubuh dulu” kata ibu ku berusaha untuk membangunkan dan mengingatkan ku untuk sholat shubuh.

“Iya bu.. sebentar lagi “ jawab ku dengan nada-nada masih ngantuk

Aku pun tidur lagi tanpa menghiraukan perintah dari ibu untuk sholat. dengan entengnya ku meninggalkan sholat tanpa merasa berdosa pada alloh SWT yang telah menciptakan kita dan tanpa merasa bersalah pada ibu yang telah mengingatkan ku untuk mendirikan sholat seperti hari-hari biasanya dalam kehidupanku ini jarang mendirikan sholat

Ibu pun terus meneruskan aktivisas seperti biasanya di pagi hari dan mengira kalau aku sudah bangun dan mendirikan sholat, sementara aku tetap tidur menikmati indahnya tidur pagi dengan berselimut tebal yang menambah kenikmatan dalam tidur yang mengusir dinginya pagi itu.

“Kuuuukuluruuuuk petok, petok “

suara ayam begitu nyaring yang bertanggar di pagar samping kamarku mengagetkan ku yang sedang tidur dalam balutan selimut tebal hingga ku terbangun dengan raut muka yang menaruh benci pada ayam yang telah mengganggu tidur ku.

Ku lihat jam di handphone telah menunjukan jam 6 pagi, ku mencoba bangkit dari tempat tidur ku dan berusaha membuka jendela kamar, sinar matahari langsung menerpa tubuh ku, menyilaukan mata ini begitu ku buka jendela kamar yang kebetulan menghadap ke arah timur ke arah matahari ketika terbit. Nafas panjang ku ambil dan ku keluarkan berkali-kali menikmati segarnya udara pagi yang beranjak siang itu.

“pagi yang suram” gumanku dalam hati, pagi itu memang tak secerah biasanya di tambah lagi burung-burung bertengger di pohon mangga berkicau dengan aneh seperti mengejek dengan memasang muka sinis menatap ke arahku.

Pagi inilah awal hidupku menyambut liburan panjang setelah berkeluh kesah mnghadapi ujian nasional, ujian yang membuat semua orang kepalanya hampir meledak. Senyum manis bernaung dalam raut wajahku menghiasi pagi menyambut libur panjang yang sudah menghadang di depan mata. Terus tersenyum melamunkan hal-hal yang kan mengisi libur panjang ku, banyak hal-hal indah tergambar dalam benak ku “ this times to enjoy my life” kata ku dengan penuh kesenangan layaknya burung merpati mendapatkan cintanya yang kan terbang tinggi bersama mengepahkan sayapnya tuk memadu kasih penuh kegembiraan bersama pasanganya.

“ mann.... jangan di kamar terus, bantu bapak tu di depan” teriakan ibu dari dapur dengan nada penuh memelas yang membuyarkan lamunanku.

“Iya bu nanti aku bantu “ jawabku sembari meninggalkan kamar yang masih antah brantah berantakan seperti kandang sapi milik bapak ku. Memang pada dasarnya ku tak pernah merapikan tempat tidurku, ibu lah yang selalu merapikanya usai memasak di dapur dia beranjak ke kamarku dengan penuh sabar dan iklas tanpa rasa lelah merapikan tempat tidur ku, sering kali ibu memperingatkan ku tuk merapikanya tapi tak pernah ku hiraukan, tak pernah ku jalankan. “ngapain di rapikan kan masih ada ibu yang bisa merapikan” guman ku sambil terus melangkah menjauhi kamar.

waktu terus berjalan meninggalkan masa lalu dan terus berjalan menyongsong waktu yang kan datang. Senyum penuh kebahagiaan terus bernaung di wajah ku melewati libur panjang yang penuh euforia kesenangan itu. Hari-hari ku jalani dengan hura-hura, tanpa terpikirkan untuk membantu orang tua, hanya bermainlah yang terus mengisi hari-hari ku, kehidupan menyenangkan terus membalut rapat dalam hidup ini, banyak kesenangan menerpa hidupku foya-foya, hura-hura terus melebur membuai hidup ini. “this lives what i want” teriak ku sambil meneguk alkohol yang yang ku nikmati bersama teman-teman ku di kesunyian malam yang dingin itu.

“Hidup ini indah broo, ngapain di bikin susah” teriak temanku yang setengah nggak waras karena kebanyakan minum alkohol. Kebahagiaan terus berrlarut membuai hidupku

Selasa, 18 November 2014

Tofik Nurochman

Sejarah perkembangan islam



SEJARAH ISLAM DAN PERKEMBANGANYA
Di NEGRI ARABIA

Tofik Nurochman

Cerpen hijrah




            Jam alarm terus berdentang mengusik kesunyian pagi di selah-selah tidurku, betley dubs nada alarm yang terpasang pada handphone ku terus berdering nyaring seprti layaknya memberitahu bahwa peradaban dunia malam telah berakhir. Sekitar setengah jam berlalu alarm pada handphone terus berbunyi berharap ada yang mematikanya, ku terbangun merasa seperti ada yang mengusik tidur indah ku, terdengar bising-bising

Kamis, 23 Oktober 2014

Tofik Nurochman

Cerita cintaku



            Menginjak usia 16 tahun awal ku masuk dunia slta, rasa senang menyelimuti kegembiraan karena bisa di terima di sekolah favorit, aku masuk di salah satu SMK swasta di daerah ku, disitulah aku mulai mengekspresikan diriku, dan saat itulah aku mulai mengenal cinta, awalnya aku tak mengerti apa itu cinta, dan bagai mana itu cinta, tapi entah kenapa semua orang membutuhkan cinta, ngga di sekolah, di angkot, di tempat nongkrong, dari yang muda hingga yang tua semua orang membicarakan cinta.